Friday, October 30, 2015

PENGERTIAN DAYAH SALAFIAYAH DAN PERAN DAYAH SALFIYAH


A.    PENGERTIAN DAYAH SALAFIAYAH
Lembaga pendidikan khas aceh yang disebut dayah. Merupakan sebuah lembaga yang pada awalnya memposisikan dirinya sebagai pusat pendidikan pengkadderan ulama. Kehadirannya sebagai institusi pendidikan isam di aceh bisa diperkirakan hamper bersamaan tuanya dengan islam di nusantara. Kata dayah berasal dari bahasa Arab, yakni zawiyah, yang berarti pojok.[1]
Istilah zawiyah, secara literal bermakna sudut, diyakini oleh masyarakat aceh pertama kali digunakan sudut mesjid madinah ketika nabi Muhammad SAW berdakwah pada masa islam. Pada abad pertengahan, kata zawiyah dipahami sebagai pusat agama dan kehidupan mistik dari penganut tasawuf, kerena itu, hanya didominasi oleh ulama perantau, yang telah dibawa ketengah-tengah masyarakat. Kadang-kadang lembaga dibangun menjadi sekolah agama dan pada saat tertentu zawiyah juga di jadikan sebagai pondok bagi pencari kehidupan spiritual. Dhus, sangat mungkin bahwa disebarkan ajaran islam di aceh oleh para pendakwah tradisional Arab dab Sifi; di samping itu, nama lain dari dayah adalah rangkang. Perbedaannya eksistensi, dan peran rangkang dalam kancah pembeajaran lebih kecil dibandingkan dengan dayah.[2]
Ulama dayah merupakan suatu komunitas khusus diantara ulama aceh, mereka adalah alumni dari dayah. Oleh karena iyu mereka dianggap lebih terhormat dibandingkan dengan orang yang menuntut ilmu ditempat/lembaga pendidikan lain seperti lulusan madrasah atau sekolah. Orang-orang yang belajar selain dari dayah dan mampu menguasai ilmu agama secara mendalam disebut sebagai “ulama modern” walaupun perbedaannya tidak begitu jelas.[3]

A.    PERAN DAYAH SALAFIYAH
Realitas sejarah mengungkapkan bahwa lembaga dayah mempunyai 4 peranan yang sangat signifikan bagi masyarakat aceh, yaitu sebagai pusat belajar agama (The Central Ralijious Learning) sebagai benteng terhadap kekuatan melawan penetrasi penjajahan, sebagai agen pembangunan dan sebagai seekolah bagi masyarakat.[1]
1.      Sebagai pusat belajar agama
Pada abad ke 17 Masehi, Aceh telah menjadi pusat kegiatan intelektual, banyak sarjana dari Negara-negara lain berbondong-bondong dating ke aceh untuk menuntut ilmu agama.seorang ulama terkenal syekh Muhammad yusuf Al-makassari (1626-1699 M), salah seorang ulama trsohor pada waktunya di kpulauan melayu pernah belajar di aceh, salah satu tarikat yang dipelajarinya di aceh adalah tarikat Al-kadariah. Syekh burhanuddin dari minangkabau yang kemudian menjadi ulama terkenal dan menyebarkan agama islam dan mendirikan surau di minangkabau, juga pernah belajar di aceh dibawah bimbingan syekh abdurr rauf Al- singkil.
Atensi ulama terhadap ilmu-ilmu agama tidaklah pupus, walaupun kondisi ekonomi dan politik pada masa kesultanan aceh mengalami kemunduran. Sebelum kedatangan belanda dayah-dayah di aceh sering dikunjungi oleh masyarakat-masyarakat luar aceh. Dari seja Hamzah Fansuri sampai datangnya belanda ada 13 ulama dayah yang menulis kitab;karya yang ditulis jumlahnya 114 kitab-kitaab tersebut terdiri dari berbagai subjek kajian diantaranya; ilmu tasauf, tauhid, tafsir, akhlak, astronomi, filsafat, ilmu logika, ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu lainnya
Menurut AL-atas, bahasa melayu juga dikembangkan pada abad-abad tersebut. Hamzah fansuri(1510-1580) merupakan seorang pionir dalam mengembangkan bahasa melayu tersebut secara rasional dan sistematis serta dia menggunakan dalam filsafat. Banyak karya-karya lain yang mengidentifikasikan bahwa aceh pernah menjadi sebagai pusat kajian ilmiah yang masyhur yang diperankan dan digerakkan oleh ulama beserta dayah yang dipimpinnya
2.      Sebagai benteng pertahanan penjajah
Pada saat peperangan melawan penjajah belanda, dayah memainkan peranan yang sangat penting beserta rakyat aceh meeawan tekanan penjajah belanda. Ketika para sultan dan kaum ningrat tidak sanggup menjalankan roda pemerintahanya, para tentara menginginkan pemimpin lain untuk melanjutkan perlawanan dalam rangka mempertahankan tanah air mereka, maka pada saat itulah ulama-ulama dan dayahnya tampil sebagai benteng pertahanan yang cukup tangguh dan sulit untuk ditempuh oleh penjajah.
Ulama dayah terkenal sebagai komandan perang antaraa lain teungku Abdul wahab tanoh abee, teungku chik kuta karang dan teunku Muhammad saman yang dikenal dengan teungku chik ditiro.kontri mereka bagi tanah aceh dalam menghadapi penetrasi penjajah sangat besar dan perlu dikenang oleh generasi muda bahwa mereka santri dayah yang menjelma sebagai panglima perang.
3.      Sebagai Agen pembangunan
Dalam beberapa waktu, beberapa luusan dayah ada yang menjadi pimpinan yang duduk di kursi pemerintahan, dilain pihak ada yang menjadi informal, biasanya mereka aktif dalam pembangunan masyarakat. Tradisi ini berlangsung sampai saat ini. Sebelum kedatangan belanda ke aceh beberapa ulama yang tamat dari dayah turut aktif dalam bidang ekonomi dan bidang pertanian, sebagai contoh; Teungku chik di pasi memimpin masyarakat membangun irigasi, sperti yang dilakukan oleh teungku chik di bambi dan teunku di rambee.
4.      Sebagai sekolah bagi masyarakat
Sekalipun pendidikan mahal, namun pendidikan dayah tidak teralu mahal. Inilah yang menjadi faktor bagi masyarakat yang secara ekonomi tidak mampu, rakyat bisa belajar meskipun miskin. Umumnya dayah-dayah tidak membebankan santri-santrinya untuk membayar uang pendidikan. Bagi santri yang fakir miskin dayah dengan sendirinya menyediakan makanan yang disediakan oleh pimpinan dayah atau dari masyarakat yang siap membantunya.
Tidak seperti halnya dayah, sekolah dasar dan madrasah mewajibkan murid-murid untuk membayar uang pendidikan. Sekolah juga mewajibkan murid-murid memakai pakaian seragam karena banyak tuntutan banyak mengeluarkan uang bagi masyarakat menjadi alas an mengapa mereka memilih dayah sebagai tempat belajar. Lebih dari itu sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, belajar didayah sangatlah konprehensif ketimbang belajar ditempat lainnya karena dayah tidak hanya mengajarkan materi agama islm tetapi juga bimbingan spiritual dal latihan fisik.



[1] Amiruddin, Ulama Dayah…, hal. 42.


[1] Muntasir, “Dayah Dan Ulama Dalam Masyarakat Aceh”, dalam Sarwah, volume, II, hal. 43.
[2] M. Hasbi Amiruddin, Ulama Dayah, Pengawal Agama Masyarakat Aceh, (Lhokseumawe: Nadia pondantion, 2003), hal. 33.
[3] M. Hasbi Amiruddin, Ulama Dayah: Peranan Responnya Terhadap Pembaharuan Hukum Islam, Dalam Dodi S.Truna Dan Ismatu Ropi (ed) Pranata Islam Di Indonesia, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2002), hal. 119. 

1 comment:

Unknown said...

assalamualaikum
Ustadz Rujukan Buku Refensinya Bisa Dikirim Foto Covernya, Biar Saya Menbawa Lebih Lanjut...,